Cara Menghitung Keuntungan Usaha

Cara Menghitung Keuntungan UsahaPada saat pelatihan khususnya pelatihan usaha, topik yang sangat menarik minat peserta saat masuk pada materi perhitungan keuntungan usaha.


Melihat antusiasme peserta membuat kami jadi memahami bahwa salah satu daya tarik yang membuat banyak orang ingin buka usaha adalah mendapatkan keuntungan.

Kebanyakan dari peserta yang ikut pelatihan tidak begitu memahami bagaimana cara menghitung keuntungan yang  benar.

 

Mungkin Anda pun ada yang belum tahu bagaimana caranya. Berikut ini merupakan urutan cara perhitungan keuntungan dalam usaha secara sederhana:

 

Urutan Cara Menghitung Keuntungan

Cara Menghitung Keuntungan Usaha

 

Cara Perhitungan Keuntungan secara Spesifik

1. Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)/Modal Pokok

Cara menghitung modal pokok penjualan dapat dijelaskan . Perhitungan modal pokok merupakan hal pertama yang harus dilakukan untuk mengetahui keuntungan usaha selanjutnya.

Contoh: Untuk contoh kali ini menggunakan harga pokok penjualan burger seperti yang tercantum pada  dan untuk HPP per porsi menggunakan resep mi ayam ala UKMKU Rp1.500 . Harga pokok penjualan sebuah burger dengan resep ala UKMKU adalah sebesar Rp1.400 per buah.

2. Menentukan Harga Jual

Menentukan harga jual bergantung pada keinginan pemilik dan segmentasi pasarnya.

Contoh: Kali ini harga jual ditentukan dari harga yang umum di pasaran. Harga pasaran umum mi ayam adalah Rp5.000 dan harga pasaran untuk burger adalah Rp6.000.

3. Menghitung Keuntungan Kotor

Keuntungan kotor adalah hasil keuntungan dari perhitungan penjualan dikurangi modal pokok akan tetapi belum dikurangi biaya operasional.

Keuntungan kotor = Penjualan per buah/porsi — Modal Pokok

Keuntungan kotor/hari = Total penjualan/hari/bulan — Total modaI pokok atau per bulan

Contoh:

Usaha Burger

Keuntungan burger/buah = Rp6.000 – Rp 1.400 = Rp4.600/buah

Bila sehari rata-rata dapat menjual 20 buah burger, berapa keuntungan kotor yang diperoleh setiap hari dan setiap bulannya?

Keuntungan burger 20 buah/hari adalah = Rp4.600 x 20 = Rp92.000/hari

Keuntungan burger rata-rata/bulan adalah = Rp92.000 x 30 = Rp2.760.000

Usaha Mi Ayam

Keuntungan Mi ayam/porsi Rp5.000 — Rp1.500 = Rp3.500/buah

Bila sehari rata-rata dapat menjual 50 porsi mi ayam, berapa keuntungan kotor yang diperoleh setiap hari dan setiap bulannya?

Keuntungan mi ayam porsi/hari adalah Rp3.500 x 50 = Rp175.000/hari

Keuntungan mi ayam rata-rata/bulan adalah = Rp175.000 x 30 = Rp5.250.000

4. Menghitung Total Biaya Operasional

Biaya operasional usaha adalah biaya-biaya lain yang dibutuhkan untuk usaha selain bahan baku. Biaya operasional antara lain:

• Biaya Bahan bakar (gas)

• Biaya upah tenaga kerja

• Komisi per buah untuk tenaga keliling (bila ada)

• Biaya transportasi

• Biaya rekening listrik (jika ada)

• Biaya rekening air (bila ada)

• Biaya kerusakan produk, atau sisa yang tidak terjual.

Contoh: Bila sebulan usaha burger membutuhkan 2 tabung  gas 3 kg dan upah tenaga kerja, biaya ongkos belanja Rp10.000 setiap 2 hari dan total perhitungan sisa yang tidak terjual 10 buah setiap bulannya. Maka berapa total biaya operasional burger setiap bulannya?

Perhitungannya adalah:

2 tabung gas @ Rp17.000  = Rp34.000

Gaji pembantu  = Rp500.000

Ongkos 10.000 x 15 hari  = Rp150.000

Sisa burger 10 x 1.400 = Rp14.000

Total biaya operasional/bulan = Rp698.000

5. Menghitung Keuntungan Bersih

Keuntungan bersih adalah hasil keuntungan yang sudah dikurangi seluruh biaya operasional.

Cara perhitungannya adalah:

Keuntungan Bersih = Total Keuntungan Kotor/Bulan — Total Biaya Operasional Setiap Bulan

Contoh: Dengan total keuntungan kotor usaha burger Rp2.760.000 setiap bulan dan biaya operasional setiap bulan Rp698.000. Berapa keuntungan bersih yang dihasilkan usaha burger tersebut?

Keuntungan bersih/bulan = Rp2.760.000 — Rp698.000 = Rp2.062.000

6. Alokasi Hasil Keuntungan Bersih

Keuntungan bersih memang mutlak menjadi hak pemilik usaha, tapi akan lebih baik bila hasil keuntungan bersih juga ada pengelolaannya sehingga usaha Anda akan terasa lebih sehat. Akan tetapi Anda sendiri  yang berhak menentukan, pertimbangannya bila semakin besar persentase pengembalian modal investasi maka usaha akan lebih cepat balik modal (BEP). Perkecil persentase kebutuhan konsumtif di awal usaha karena persentase untuk konsumtif bisa lebih besar ketika pengembalian modal investasi sudah selesai (BEP). Berikut ini adalah tip-tip persentasi untuk alokasi hasil keuntungan bersih usaha:

1. Untuk pengembalian modal investasi = 30—50%

2. Untuk penyusutan alat = 10—20%

3. Untuk pengembangan usaha = 10 —20%

4. Untuk kebutuhan konsumtif = 10—50%