Simulasi Bencana di SLB La Ketu, Luwu Timur Perkuat Kesiapsiagaan Siswa Disabilitas Tim Redaksi, 24 September 202629 September 2026 MALILI — Kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Hal itu menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui edukasi dan simulasi kebencanaan bagi siswa serta orang tua di Sekolah Luar Biasa (SLB) La Ketu, Malili, Kamis (24/9/2026). Kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman sekaligus pengalaman praktis kepada peserta didik penyandang disabilitas dalam menghadapi kondisi darurat. Pelaksanaannya melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Luwu Timur, bekerja sama dengan Yayasan Save the Children Indonesia dan Yayasan Celosia Marennu Indonesia. Materi Disesuaikan dengan Kebutuhan Siswa Simulasi tidak hanya berisi penyampaian materi mengenai risiko bencana. Peserta juga diajak memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi situasi darurat. Materi mencakup pengenalan potensi risiko bencana, pertolongan pertama, prosedur evakuasi yang aman, hingga praktik penyelamatan. Pendekatan tersebut disesuaikan dengan kondisi peserta didik penyandang disabilitas, sehingga mereka tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga mengenali tindakan perlindungan diri yang dapat dilakukan ketika bencana terjadi. Analis Kebencanaan BPBD Luwu Timur, Bannawati, mengatakan edukasi semacam ini penting agar anak-anak mampu mengenali tanda bahaya dan melakukan tindakan awal untuk melindungi diri. “Misalnya saat terjadi gempa, anak-anak diajarkan untuk berlindung di bawah meja. Ketika sirine berbunyi, mereka tahu bahwa itu tanda untuk segera melakukan perlindungan diri,” ujar Bannawati. Guru dan Orang Tua Punya Peran Penting Bannawati mengatakan sebagian peserta didik masih membutuhkan bantuan ketika proses evakuasi berlangsung. Karena itu, latihan kesiapsiagaan tidak cukup hanya diberikan kepada siswa. Guru dan orang tua juga perlu memahami prosedur evakuasi agar dapat memberikan pendampingan secara tepat ketika kondisi darurat terjadi. Menurutnya, latihan yang dilakukan secara berulang dapat membantu mengurangi kerentanan sekaligus mencegah kepanikan saat menghadapi bencana. Pendekatan tersebut menjadi penting mengingat kebutuhan setiap anak dalam menghadapi keadaan darurat dapat berbeda. Pemahaman mengenai prosedur keselamatan diharapkan membuat proses perlindungan dan evakuasi dapat dilakukan dengan lebih terarah. Edukasi Diharapkan Menjangkau Sekolah Lain Fasilitator Lapangan Yayasan Celosia Marennu Indonesia, Almi Fadhilah, mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun pemahaman bersama antara siswa, guru, dan orang tua mengenai mitigasi bencana. Selain memahami risiko, mereka diharapkan mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. “Kami berharap edukasi seperti ini dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain di Luwu Timur, sehingga semakin banyak anak yang memiliki pengetahuan dasar untuk melindungi diri saat bencana,” jelas Almi Fadhillah. Melalui kegiatan tersebut, kesiapsiagaan bencana di Luwu Timur tidak hanya diarahkan pada kemampuan merespons bencana secara umum, tetapi juga pada bagaimana memastikan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh akses terhadap pengetahuan dan latihan keselamatan yang sesuai dengan kebutuhannya. (*) Jangan Lewatkan:Wabup Luwu Timur Dorong Desa dan Kecamatan Jadi Penggerak Lingkungan SehatWarga Balambano Geram, Proyek Pipa PT Vale Tetap Berjalan Usai Kesepakatan PenghentianDi Balik Rencana Kawasan Lada Loeha Raya, APL Soroti Konsesi, Hutan dan Lahan PetaniInovasi Mahasiswa KKN Unhas dari Luwu Timur Juara I Expo KKN 116